Gelombang PHK di Jawa Tengah terus bertambah. Hingga akhir Juli 2026, tercatat 6.604 pekerja kehilangan pekerjaan di provinsi yang selama ini dikenal sebagai basis industri padat karya tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 51,4 persen berasal dari sektor tekstil dan garmen. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah Ahmad Aziz menegaskan sektor tekstil dan garmen menjadi penyumbang PHK terbanyak. Data ini memperlihatkan tekanan yang belum mereda pada industri yang menyerap banyak tenaga kerja berketerampilan menengah.

Sebaran PHK di Jawa Tengah per Sektor Industri

Selain tekstil dan garmen, PHK juga terjadi di sektor manufaktur dan industri mainan dengan porsi 21,1 persen, industri kayu dan furnitur 12,5 persen, serta industri bulu mata palsu 9,4 persen. Beberapa perusahaan tercatat melakukan pengurangan karyawan dalam jumlah besar, di antaranya PT Citra Busana Semesta dengan 920 pekerja, PT Combine Will Industrial Indonesia sebanyak 849 pekerja, PT Victory Apparel 846 pekerja, dan PT Samwon Busana Indonesia 685 pekerja. Deretan nama ini menunjukkan tekanan tidak hanya dialami pabrik kecil, tetapi juga perusahaan berskala besar yang berorientasi ekspor.

Penyebab PHK Industri Tekstil dan Respons Pemerintah

Penyebab PHK cukup beragam. Ada perusahaan yang tutup karena merugi dalam waktu lama, ada yang menghadapi penurunan pesanan ekspor maupun domestik, ada yang melakukan efisiensi operasional, hingga yang dinyatakan pailit. Sebagian kecil terjadi karena keadaan kahar seperti kebakaran pabrik. Untuk meredam dampaknya, pemerintah provinsi menggelar bursa kerja, pelatihan vokasi, dan program penempatan pekerja ke berbagai sektor industri lain.

Kondisi di Jawa Tengah sejalan dengan tantangan industri padat karya secara nasional. Pesanan ekspor manufaktur yang terus turun dalam beberapa bulan terakhir dan persaingan dengan produk impor membuat margin pabrik makin tipis. Ketika pembeli luar negeri mengurangi order, pabrik garmen yang sangat bergantung pada segelintir pembeli besar menjadi yang pertama terpukul. Di sisi lain, kenaikan biaya produksi dan tuntutan kepatuhan dari pembeli global menambah beban, sehingga pabrik yang tidak mampu menyesuaikan diri memilih mengurangi kapasitas. Efeknya merembet ke usaha di sekitar kawasan industri, mulai dari warung makan, kos-kosan, hingga jasa transportasi karyawan.

  • Total PHK di Jawa Tengah hingga akhir Juli 2026: 6.604 pekerja.
  • Sektor tekstil dan garmen menyumbang 51,4 persen.
  • Manufaktur dan mainan 21,1 persen, kayu dan furnitur 12,5 persen.
  • Industri bulu mata palsu menyumbang 9,4 persen.
  • Pemerintah menyiapkan bursa kerja dan pelatihan vokasi.

Angka PHK di Jawa Tengah menjadi peringatan bagi pelaku usaha yang bergantung pada satu pasar atau satu pembeli besar. Diversifikasi pelanggan, penguatan merek sendiri, dan penjualan langsung ke konsumen menjadi strategi yang makin relevan, termasuk bagi konveksi skala kecil. Di sisi lain, pekerja terdampak yang memiliki keterampilan menjahit dan produksi bisa menjadi cikal bakal usaha mikro baru, asalkan didukung akses modal, pelatihan pemasaran, dan kanal penjualan digital yang memadai.

🔗 Sumber: Kompas.com