Menteri UMKM Maman Abdurrahman kembali menyoroti tantangan UMKM yang belum terurai, terutama di tengah derasnya produk impor di pasar domestik. Hal itu ia sampaikan dalam acara Bursa Wirausaha Unggulan sekaligus akad massal Kredit Usaha Rakyat (KUR) Jawa Timur 2026 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, pada Rabu, 23 September 2026. Menurutnya, persoalan usaha kecil tidak cukup diselesaikan dengan menyalurkan pembiayaan saja.
Tiga Tantangan UMKM Menurut Menteri UMKM
Maman memetakan tiga masalah utama yang masih membelit pelaku usaha kecil. Pertama, proses perizinan dan sertifikasi yang kerap memakan waktu lama. Kedua, keterbatasan modal untuk memulai maupun mengembangkan usaha. Ketiga, sulitnya mengakses pasar. Ia mengingatkan bahwa ada pelaku usaha yang sudah mendapat pembiayaan, tetapi produknya tidak laku sehingga usahanya justru bangkrut.
Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa modal tanpa pasar bisa berbalik menjadi beban. Cicilan tetap berjalan, sementara barang menumpuk di gudang. Karena itu, pendampingan usaha semestinya tidak berhenti pada pencairan kredit, melainkan berlanjut ke strategi penjualan, pengemasan, hingga pemasaran.
Pembatasan Produk Impor dan Penguatan Pasar Domestik
Terkait persaingan dengan barang luar negeri, Maman menyebut pemerintah tengah menerapkan pembatasan impor untuk sejumlah produk, terutama dari China, termasuk garmen, tekstil, dan pakaian. Ia juga menyampaikan bahwa Presiden telah menginstruksikan jajaran kepabeanan untuk membatasi masuknya barang asing demi melindungi industri dalam negeri. Kebijakan ini diharapkan memberi ruang lebih lega bagi produsen lokal, khususnya di sektor fesyen dan tekstil yang paling terpukul.
Dari sisi pembiayaan, penyaluran KUR di Jawa Timur disebut telah mencapai Rp37 triliun untuk sekitar 643 ribu pelaku UMKM, dengan Rp23 triliun di antaranya mengalir ke sektor produksi. Maman menekankan perlunya inkubator bisnis yang mendampingi UMKM secara terstruktur, sistematis, dan terintegrasi.
- Tantangan pertama: perizinan dan sertifikasi yang lambat.
- Tantangan kedua: keterbatasan modal usaha.
- Tantangan ketiga: akses pasar yang masih sulit.
- Pemerintah membatasi impor sejumlah produk seperti garmen, tekstil, dan pakaian.
- KUR Jawa Timur mencapai Rp37 triliun untuk sekitar 643 ribu UMKM.
Pembatasan impor memang bisa mengurangi tekanan harga, tetapi tidak otomatis membuat produk lokal dipilih konsumen. Pembeli tetap membandingkan kualitas, desain, dan kemudahan membeli. Di sisi lain, tantangan UMKM soal perizinan dan sertifikasi juga perlu dibenahi dari hulu, karena produk yang belum mengantongi izin edar atau sertifikat sulit masuk ke ritel modern maupun pembeli korporat. Inkubator yang disebut Maman bisa berperan menjembatani kebutuhan itu, mulai dari pendampingan dokumen hingga pertemuan dengan calon pembeli.
Dari tiga tantangan UMKM yang dipetakan, akses pasar adalah yang paling bisa dikerjakan pelaku usaha sendiri sejak sekarang. Membangun merek, memperbaiki kemasan, memanfaatkan marketplace, dan memiliki website toko dengan katalog serta pembayaran yang jelas dapat memperluas jangkauan pembeli. Dengan pasar yang lebih luas, pembiayaan seperti KUR benar-benar menjadi pengungkit pertumbuhan, bukan sumber masalah baru.
🔗 Sumber: detikJatim