Okupansi hotel libur sekolah 2026 melonjak cukup tajam dibanding hari biasa. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mencatat tingkat hunian hotel naik sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan periode normal. Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran menyampaikan bahwa di sejumlah destinasi seperti Bali serta beberapa daerah di Jawa dan Sumatra, rata-rata okupansi berada di kisaran 70 sampai 80 persen, bahkan ada yang melewati 80 persen. Padahal pada hari biasa, tingkat hunian umumnya hanya sekitar 40 hingga 50 persen.

Faktor Pendorong Okupansi Hotel Libur Sekolah

PHRI melihat beberapa faktor yang membuat libur sekolah tahun ini lebih ramai. Pertama, rupiah yang tertekan terhadap mata uang asing membuat perjalanan ke luar negeri terasa lebih mahal, sehingga banyak keluarga memilih wisata domestik. Kedua, pergerakan wisatawan banyak terjadi lintas provinsi melalui jalur darat di Jawa dan Sumatra, yang membantu menghindari harga tiket pesawat yang tinggi. Ketiga, daya tarik destinasi itu sendiri dinilai makin kuat. Kombinasi ini memberi napas bagi industri perhotelan yang sepanjang tahun menghadapi tekanan.

Pola Pendapatan Industri Perhotelan Mulai Bergeser

Menariknya, struktur pendapatan hotel saat musim libur ikut berubah. Pemesanan kamar didominasi wisatawan keluarga yang sedang libur sekolah, sementara pendapatan makanan dan minuman masih datang dari kegiatan rapat korporasi dan instansi. Maulana mengakui belanja kegiatan pemerintah menyusut akibat kebijakan efisiensi, sehingga pendapatan hotel pada hari kerja sempat melemah. Lonjakan wisatawan domestik selama libur sekolah setidaknya menutup sebagian lubang tersebut.

Situasi ini memperlihatkan betapa bergantungnya bisnis pariwisata pada kalender. Di luar musim libur, banyak hotel mengandalkan acara pertemuan dan perjalanan dinas, sehingga ketika segmen itu melemah, pengelola harus lebih kreatif mengisi kamar pada hari kerja. Paket menginap panjang, promo akhir pekan untuk warga kota terdekat, atau kerja sama dengan penyelenggara acara lokal menjadi beberapa cara yang lazim dipakai untuk menjaga arus kas tetap stabil sepanjang tahun, bukan hanya saat puncak liburan.

  • Okupansi hotel naik 20 hingga 30 persen dibanding periode normal.
  • Destinasi di Bali, Jawa, dan Sumatra mencapai 70 sampai 80 persen.
  • Okupansi hari biasa umumnya hanya 40 hingga 50 persen.
  • Rupiah melemah mendorong wisatawan memilih liburan di dalam negeri.
  • Perjalanan darat lintas provinsi jadi pilihan untuk menekan biaya.

Bagi pelaku usaha pariwisata, lonjakan musiman ini menjadi pengingat bahwa pasar wisatawan lokal masih besar dan sensitif terhadap harga. Hotel, homestay, restoran, dan penyedia paket wisata yang ingin menangkap peluang perlu hadir di saat calon tamu mulai merencanakan perjalanan, biasanya jauh sebelum musim libur tiba. Kanal pemesanan langsung lewat website, ulasan yang terawat, dan paket keluarga yang jelas harganya bisa membantu penginapan kecil bersaing dengan jaringan hotel besar, sekaligus mengurangi ketergantungan pada komisi agen perjalanan online saat okupansi hotel libur sekolah sedang tinggi.

🔗 Sumber: Kontan.co.id