Suku bunga The Fed kembali naik untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga tahun. Dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026, bank sentral Amerika Serikat itu menaikkan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen. Keputusan diambil secara bulat dengan suara 12-0 dan menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023, sebuah sinyal bahwa perang melawan inflasi di Negeri Paman Sam belum selesai.

Mengapa Federal Reserve Kembali Menaikkan Suku Bunga

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa fokus utama lembaganya saat ini adalah stabilitas harga. Menurutnya, inflasi Amerika sudah terlalu tinggi dan berlangsung terlalu lama, sehingga pengetatan dianggap perlu. Tekanan harga banyak dipicu lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, dengan minyak Brent sempat bertengger di atas 100 dolar AS per barel. Inflasi tahunan Amerika tercatat 3,4 persen, jauh di atas target 2 persen. Proyeksi para pejabat The Fed juga mengisyaratkan kemungkinan satu kenaikan lagi sebelum akhir tahun.

Keputusan ini langsung memantik ketegangan politik. Beberapa jam setelah pengumuman, Presiden Donald Trump meminta bunga dipangkas hingga 1 persen atau lebih rendah. Meski begitu, pasar membaca nada Warsh sebagai sikap tegas bank sentral untuk menjaga kredibilitasnya.

Dampak Suku Bunga The Fed terhadap Rupiah dan Yield SBN

Efeknya ke Indonesia terasa cepat. Pada 17 September 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah 57 poin ke Rp17.753 per dolar AS, dan kurs JISDOR juga bergeser dari Rp17.712 ke Rp17.753. Indeks dolar AS naik ke kisaran 100,30. Para ekonom mengingatkan bahwa selisih bunga antara Amerika dan Indonesia yang menyempit membuat aset negara berkembang kurang menarik, sehingga risiko arus modal asing keluar meningkat. Yield SBN tenor 10 tahun yang berada di sekitar 7,15 persen pada 11 September juga berpotensi terdorong naik karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih besar.

  • Federal Funds Rate naik 25 bps menjadi 3,75–4,00 persen, disepakati 12-0.
  • Kenaikan pertama sejak Juli 2023, dipicu inflasi AS yang bertahan tinggi.
  • Rupiah melemah ke Rp17.753 per dolar AS sehari setelah keputusan.
  • Cadangan devisa 146,5 miliar dolar AS setara 5,4 bulan impor, turun dari 6,3 bulan pada Januari.
  • Ekonom BCA menilai BI bisa perlu menaikkan bunga 25–50 bps bila dolar terus menguat.

Ruang Gerak Bank Indonesia dan Biaya Pinjaman

Kenaikan bunga Amerika juga mempersempit ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai imbal hasil aset Indonesia harus cukup tinggi untuk menutup risiko kurs, sedangkan ekonom BCA David Sumual memperkirakan BI mungkin perlu menaikkan bunga 25–50 basis poin bila penguatan dolar berlanjut hingga akhir tahun. Cadangan devisa masih memadai, namun rasio kecukupannya terus menyusut sejak awal tahun.

Bagi pembaca di Indonesia, naiknya suku bunga The Fed berarti era bunga kredit murah kemungkinan masih jauh. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, pemilik website yang membayar server atau iklan dalam dolar, hingga investor obligasi perlu mengantisipasi kurs yang lebih bergejolak dan biaya dana yang tetap mahal. Strategi yang masuk akal adalah menjaga likuiditas, meninjau ulang utang berbunga mengambang, dan tidak mengambil keputusan investasi hanya karena kepanikan jangka pendek.

🔗 Sumber: Liputan6.com