Pasar keuangan global kembali diguncang ketegangan di Timur Tengah pada pertengahan Juli. Sejak 12 Juli 2026, Selat Hormuz ditutup setelah Iran menembak kapal yang melintas tanpa izin, lalu Amerika Serikat memberlakukan blokade penuh terhadap pelabuhan Iran pada 14 Juli yang dibalas serangan Iran ke pangkalan militer AS. Jalur sempit ini dilewati sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung memicu kekhawatiran lonjakan harga energi.
Mengapa Yield SBN Turun Meski Selat Hormuz Ditutup
Menariknya, pasar obligasi pemerintah Indonesia tidak bereaksi sepanik yang dibayangkan. Menurut catatan Bareksa, imbal hasil atau yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun pada 15 Juli 2026 justru turun ke 7,236 persen dari 7,259 persen sehari sebelumnya. Penurunan yield berarti harga obligasi naik, tanda bahwa permintaan terhadap surat utang negara masih terjaga.
Pendorongnya datang dari Amerika Serikat. Indeks harga produsen AS tercatat 5,5 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan 6,2 persen, sehingga yield US Treasury tenor 10 tahun ikut turun ke 4,549 persen. Selisih atau spread antara yield SBN dan US Treasury berada di sekitar 269 basis poin, level yang masih dianggap menarik bagi investor global yang mencari imbal hasil lebih tinggi.
Dampak ke Rupiah, Emas, dan Reksa Dana
Di pasar lain, dampak ketegangan terlihat lebih jelas. Rupiah bergerak di kisaran Rp18.045 hingga Rp18.143 per dolar AS, sementara harga emas bertahan di atas 4.000 dolar AS per troy ounce karena permintaan aset safe haven. Risiko gangguan pasokan minyak memang disorot pelaku pasar, tetapi saat itu belum banyak tercermin pada pergerakan yield obligasi domestik.
- Yield SUN 10 tahun: 7,236 persen pada 15 Juli 2026, turun dari 7,259 persen.
- Yield US Treasury 10 tahun: 4,549 persen, spread sekitar 269 basis poin.
- Rupiah: Rp18.045 sampai Rp18.143 per dolar AS.
- Emas: bertahan di atas 4.000 dolar AS per troy ounce.
- Reksa dana pasar uang: imbal hasil setahun berkisar 2,76 sampai 5,25 persen.
Strategist investasi Bareksa, Sigma Kinasih, menilai kondisi seperti ini menuntut alokasi portofolio yang seimbang. Instrumen berkupon tetap seperti ORI030, yang saat itu sedang ditawarkan dengan kupon 6,90 persen untuk tenor tiga tahun dan 7,00 persen untuk tenor enam tahun, dipandang bisa menjadi sumber pendapatan yang stabil, sementara diversifikasi ke aset berdenominasi dolar dapat meredam risiko kurs.
Pelajaran Saat Selat Hormuz Ditutup bagi Investor Ritel
Kasus ini menunjukkan bahwa satu peristiwa geopolitik tidak selalu menggerakkan semua aset ke arah yang sama. Rupiah bisa melemah, emas menguat, sementara obligasi pemerintah tetap diminati karena faktor lain seperti data inflasi AS. Karena itu, keputusan investasi yang hanya didasarkan pada judul berita besar sering kali meleset dari kenyataan pasar.
Bagi investor ritel, pemilik usaha, maupun karyawan yang sedang membangun dana darurat, periode ketika Selat Hormuz ditutup adalah pengingat untuk kembali ke prinsip dasar: pahami tujuan dan jangka waktu investasi, sebar dana ke beberapa kelas aset, dan hindari keputusan panik. Pelaku usaha yang bergantung pada bahan bakar atau impor juga perlu menyiapkan skenario biaya energi yang lebih tinggi, karena dampak ke harga minyak bisa muncul belakangan.
🔗 Sumber: Bareksa