Sebelum menyewa tempat atau membeli peralatan usaha, ada satu angka yang sering dilewatkan calon pengusaha: titik impas, atau break even point. Angka ini menjawab pertanyaan paling dasarβberapa banyak produk yang harus terjual setiap bulan supaya usaha tidak rugi, sebelum bicara soal untung sama sekali. Tanpa mengetahui BEP, keputusan soal harga jual dan target penjualan biasanya hanya berdasarkan perkiraan kasar.
Rumus Dasar Menghitung BEP
Perhitungan BEP membutuhkan tiga angka: biaya tetap, biaya variabel per unit, dan harga jual per unit. Biaya tetap adalah pengeluaran yang jumlahnya sama setiap bulan tidak peduli seberapa banyak produk terjual, seperti sewa tempat dan gaji pokok karyawan. Biaya variabel adalah biaya yang muncul setiap kali satu produk dibuat atau dijual, misalnya bahan baku dan kemasan. Rumus sederhananya: BEP dalam unit sama dengan biaya tetap dibagi dengan selisih harga jual per unit dan biaya variabel per unit.
- Menentukan apakah target penjualan yang direncanakan realistis dicapai di lokasi atau pasar tertentu
- Membantu menetapkan harga jual yang masuk akal, bukan sekadar ikut-ikutan kompetitor
- Jadi dasar menghitung berapa modal kerja yang dibutuhkan sampai usaha mencapai titik impas
- Memberi sinyal awal kalau skala usaha yang direncanakan terlalu kecil untuk menutup biaya tetap
Misalnya sebuah usaha kedai kopi rumahan punya biaya tetap dua juta rupiah per bulan untuk sewa gerobak dan listrik, biaya variabel per cup lima ribu rupiah untuk bahan baku, dan menjual dengan harga lima belas ribu rupiah per cup. Selisih harga jual dan biaya variabel adalah sepuluh ribu rupiah, sehingga BEP-nya adalah dua juta dibagi sepuluh ribu, sama dengan dua ratus cup per bulan. Artinya, di bawah angka itu usaha masih menanggung rugi, dan baru di atasnya usaha mulai menghasilkan laba.
Banyak calon pengusaha terjebak optimisme berlebihan soal penjualan tanpa menghitung BEP lebih dulu, sehingga baru sadar usahanya sulit menutup biaya operasional setelah beberapa bulan berjalan. Menghitung BEP di awal, bahkan sebelum menyewa tempat atau membeli stok pertama, memberi gambaran jujur apakah rencana usaha itu layak dijalankan dengan modal dan target harga yang sudah dipikirkan.
BEP bukan angka sekali hitung lalu dilupakan. Begitu biaya sewa naik, harga bahan baku berubah, atau harga jual disesuaikan, BEP juga bergeser dan sebaiknya dihitung ulang. Kebiasaan meninjau BEP secara berkala membuat pemilik usaha lebih peka terhadap perubahan kecil yang sebenarnya berdampak besar pada keberlangsungan usaha.