OpenAI memperketat kontrol orang tua ChatGPT sebagai respons atas makin besarnya penggunaan chatbot di kalangan remaja. Dalam pembaruan yang diberitakan pada 18 Juli 2026, perusahaan menyebut hampir 90 persen remaja memakai ChatGPT setiap pekan untuk belajar, riset, dan mengatur aktivitas. Dengan angka setinggi itu, perlindungan bagi pengguna muda tidak lagi bisa diperlakukan sebagai fitur tambahan, melainkan kebutuhan dasar.

Prediksi Usia dan Pembatasan Konten Remaja

Salah satu mekanisme utamanya adalah sistem prediksi usia. Sistem ini menganalisis pola percakapan untuk memperkirakan apakah pengguna berusia di bawah 18 tahun. Bila status remaja terdeteksi atau masih meragukan, ChatGPT otomatis menerapkan perlindungan yang lebih ketat. Akun remaja akan memblokir materi sensitif seperti kekerasan grafis, tindakan menyakiti diri sendiri, citra tubuh yang tidak sehat, hingga tantangan viral yang berbahaya.

Pendekatan ini memindahkan sebagian beban verifikasi dari formulir tanggal lahir yang mudah dimanipulasi ke analisis perilaku. Tentu saja metode tersebut punya keterbatasan, tetapi prinsip menerapkan perlindungan lebih ketat ketika ragu menunjukkan kecenderungan industri untuk memilih sikap hati-hati. Pembaruan kontrol orang tua ChatGPT ini sekaligus memperluas fondasi perlindungan yang sudah diperkenalkan sejak September 2025, sehingga bukan kebijakan yang muncul tiba-tiba.

Fitur Baru Kontrol Orang Tua ChatGPT

Orang tua kini mendapat perangkat kendali yang lebih lengkap. Mereka dapat mengatur jam tenang agar ChatGPT tidak bisa diakses pada waktu tertentu, menonaktifkan mode suara, serta membatasi akses pembuatan gambar. Orang tua juga akan menerima notifikasi ketika sistem mendeteksi situasi berisiko tinggi, termasuk indikasi menyakiti diri sendiri, sehingga pendampingan bisa dilakukan lebih cepat sebelum masalah membesar. Dalam kondisi tekanan emosional serius, OpenAI membuka kemungkinan memberi tahu orang tua hingga aparat penegak hukum. Di sisi lain, remaja akan menerima pengingat untuk beristirahat saat sesi berlangsung lama, dan Study Mode diperluas untuk mendukung kegiatan belajar.

  • Prediksi usia berbasis pola percakapan untuk mengenali pengguna di bawah 18 tahun.
  • Pemblokiran konten kekerasan grafis, menyakiti diri, dan tantangan viral berbahaya.
  • Jam tenang, penonaktifan mode suara, dan pembatasan pembuatan gambar.
  • Notifikasi kepada orang tua saat terdeteksi situasi berisiko tinggi.
  • Pengingat istirahat dan perluasan Study Mode untuk remaja.

Langkah OpenAI sejalan dengan arah kebijakan di Indonesia yang lewat PP Tunas membatasi akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi. Bagi orang tua, kontrol orang tua ChatGPT layak diaktifkan dan dibicarakan bersama anak, bukan sekadar dipasang diam-diam. Pengawasan yang transparan cenderung lebih efektif dibanding larangan sepihak yang justru mendorong anak mencari jalan pintas. Bagi pelaku usaha yang membangun chatbot atau layanan edukasi berbasis AI, pesan pentingnya adalah perlindungan pengguna muda harus dirancang sejak awal, mulai dari filter konten, batasan fitur, hingga jalur pelaporan yang jelas dan mudah dijangkau oleh orang tua maupun sekolah.

🔗 Sumber: Kompas.com