Pasar saham domestik akhirnya bernapas lega setelah melewati kuartal yang berat. Otoritas Jasa Keuangan mencatat IHSG Juli 2026 menguat 10,51 persen secara bulanan dan ditutup di level 6.236,13 pada 31 Juli 2026. Kenaikan ini terjadi setelah indeks merosot 19,93 persen sepanjang kuartal II dan berakhir di 5.643,19 pada akhir Juni.

Kinerja IHSG Juli 2026 Setelah Kuartal yang Berat

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers awal Agustus menyebut pasar modal Indonesia mengalami fase konsolidasi pada kuartal II, tetapi mulai menunjukkan arah pemulihan di awal kuartal III. Pemulihan IHSG Juli 2026 ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang belum sepenuhnya reda, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan pelemahan rupiah.

Perjalanan sepanjang bulan tidak mulus. Pada sesi pertama 24 Juli 2026, misalnya, IHSG sempat turun 1,75 persen ke kisaran 6.204 dengan penjualan bersih investor asing Rp759,46 miliar. Saham Bank Mandiri (BMRI) menjadi yang paling banyak dilepas asing senilai Rp386,06 miliar, disusul BUMI, CUAN, dan TPIA. Meski begitu, indeks mampu menutup bulan di zona hijau.

Sektor Penggerak dan Aktivitas Transaksi Akhir Bulan

Pada perdagangan terakhir Juli, IHSG naik 49,76 poin dengan nilai transaksi Rp17,96 triliun. Sebanyak 437 saham menguat, 193 melemah, dan 159 stagnan. Sektor barang baku memimpin dengan kenaikan 2,54 persen, diikuti kesehatan 2,43 persen dan teknologi 2,23 persen, sementara saham Vale Indonesia (INCO) melonjak 7,65 persen dan menjadi pendorong utama di jajaran LQ45.

  • IHSG akhir Juli 2026: 6.236,13, naik 10,51 persen secara bulanan.
  • Kuartal II 2026: turun 19,93 persen ke 5.643,19.
  • Nilai aktiva bersih reksa dana 30 Juli 2026: Rp653,26 triliun.
  • Penghimpunan dana di pasar modal hingga 31 Juli: Rp113,13 triliun.
  • Porsi terbesar dari surat utang dan sukuk: Rp98,27 triliun.

Data penghimpunan dana menunjukkan perusahaan masih aktif mencari modal lewat pasar, tetapi lebih banyak memilih surat utang dibanding penerbitan saham baru. Ini wajar ketika harga saham masih jauh dari puncaknya, karena menerbitkan saham di valuasi rendah dianggap kurang menguntungkan bagi pemegang saham lama.

Pelajaran bagi Investor Ritel

Lonjakan dua digit dalam sebulan setelah koreksi tajam adalah contoh klasik betapa sulitnya menebak titik balik pasar. Investor yang panik menjual di akhir Juni kehilangan kesempatan menikmati pemulihan, sementara yang membeli terlalu agresif di tengah tekanan juga harus siap menghadapi volatilitas lanjutan. Strategi investasi bertahap dan diversifikasi tetap menjadi pendekatan yang lebih aman bagi investor pemula.

Kinerja IHSG Juli 2026 juga belum bisa dianggap sebagai tanda tekanan sudah berakhir, sebab asing masih keluar-masuk dan rupiah belum stabil. Bagi pelaku usaha yang menyimpan dana cadangan di instrumen pasar modal, penting memisahkan dana operasional dari dana investasi agar kebutuhan kas harian tidak terganggu ketika pasar kembali bergejolak.

🔗 Sumber: Periskop.id