Ada perbedaan mendasar antara website yang lambat karena traffic organik sedang tinggi, dengan website yang lumpuh karena serangan yang disengaja. Distributed Denial of Service, atau DDoS, adalah upaya membanjiri server dengan permintaan palsu dalam jumlah sangat besar secara bersamaan, biasanya berasal dari banyak sumber yang tersebar, sehingga server kewalahan melayani permintaan asli dari pengunjung sungguhan.
Mengenali Ciri-Ciri Serangan DDoS
Motif di balik serangan DDoS bisa bermacam-macam. Sebagian dilakukan sebagai gangguan terhadap kompetitor, sebagian lain sebagai bentuk pemerasan dengan ancaman terus menyerang kalau tidak dibayar tebusan, dan ada juga yang sekadar iseng menguji kemampuan tanpa motif finansial jelas. Terlepas dari motifnya, dampak bagi website yang jadi korban tetap sama: layanan tidak bisa diakses, transaksi terhenti, dan reputasi bisa tercoreng kalau downtime berlangsung lama.
Tanda-tanda awal serangan DDoS biasanya terlihat dari lonjakan trafik yang tidak wajar dalam waktu singkat, jauh melampaui pola kunjungan normal, disertai website yang tiba-tiba melambat drastis atau berhenti merespons sama sekali. Bedanya dengan lonjakan trafik organik, misalnya saat ada promo viral, adalah pola sumbernya yang sering kali datang dari alamat-alamat yang tidak masuk akal secara geografis atau perilaku yang berulang secara mencurigakan.
Mitigasi dasar yang bisa disiapkan pemilik website antara lain menggunakan layanan yang mampu menyaring trafik mencurigakan sebelum sampai ke server utama, termasuk memanfaatkan CDN yang punya kapasitas menyerap lonjakan trafik besar. Membatasi jumlah permintaan dari satu sumber dalam rentang waktu tertentu juga membantu mengurangi dampak, meski untuk serangan berskala besar biasanya dibutuhkan layanan khusus anti-DDoS dari penyedia hosting atau pihak ketiga.
Selain persiapan teknis, penting juga menyiapkan rencana komunikasi kalau serangan benar-benar terjadi. Pelanggan yang tidak bisa mengakses website akan lebih memaklumi kalau ada informasi jelas tentang apa yang terjadi lewat kanal lain seperti media sosial, dibanding dibiarkan menebak-nebak sendiri kenapa website tidak bisa diakses. Kesiapan menghadapi DDoS bukan cuma soal teknologi, tapi juga soal bagaimana bisnis tetap terlihat sigap di mata pelanggan saat masalah muncul.
Serangan semacam ini memang sulit diprediksi kapan datangnya, tapi bukan berarti tidak bisa diantisipasi. Memilih penyedia hosting yang sudah punya perlindungan dasar terhadap DDoS, serta memahami langkah apa yang harus diambil saat serangan terdeteksi, membuat bisnis jauh lebih siap dibanding menunggu masalah datang tanpa persiapan sama sekali.