Ada website yang begitu diklik langsung tampil sempurna dalam hitungan detik, dan ada pula yang membuat pengunjung menatap layar putih cukup lama sebelum konten muncul. Perbedaan ini sering bukan soal desain, melainkan strategi caching yang diterapkan di balik layar.
Tiga Lapisan Caching yang Bekerja Bersamaan
Caching di level browser adalah yang paling dekat dengan pengunjung. Ketika seseorang membuka website untuk kedua kalinya, browser tidak perlu mengunduh ulang seluruh file gambar, skrip, atau gaya tampilan dari server, karena salinannya sudah tersimpan di perangkat pengunjung sejak kunjungan pertama. Hasilnya, halaman yang sama terasa jauh lebih cepat dibuka di kunjungan berikutnya.
- Browser cache: menyimpan file di perangkat pengunjung
- Server cache: menyimpan hasil olahan halaman
- CDN: menyebarkan salinan data ke server terdekat pengunjung
Lapisan kedua ada di sisi server. Caching server menyimpan hasil olahan halaman yang sudah jadi, sehingga server tidak perlu mengerjakan ulang seluruh proses pengambilan data dari database setiap kali ada pengunjung baru. Ini sangat membantu website dengan trafik tinggi karena beban kerja server jadi jauh berkurang dibanding memproses setiap permintaan dari nol.
Lapisan ketiga, CDN atau content delivery network, bekerja dengan menyebarkan salinan file website ke server-server yang tersebar di berbagai lokasi geografis. Pengunjung dari kota atau negara mana pun akan diarahkan mengambil data dari server terdekat, bukan dari satu server pusat yang mungkin jaraknya jauh, sehingga waktu tempuh data jadi lebih singkat.
Ketiga lapisan ini saling melengkapi, bukan saling menggantikan. Website yang hanya mengandalkan satu jenis caching biasanya masih terasa lambat pada situasi tertentu, misalnya saat pengunjung baru pertama kali datang atau saat mengakses dari lokasi yang jauh dari server utama. Kombinasi ketiganya itulah yang membuat sebuah website terasa responsif hampir di semua kondisi.